Ketika saya kuliah di STAN, saya punya banyak teman yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia. Dari barat ke timur. dan dalam berkomunikasi, tentu mereka menggunakan bahasa indonesia.
Bahkan dalam satu bahasa indonesia, saya menemukan banyak warna dalam percakapan sehari-hari dengan teman-teman saya itu. Indah sekali merasakan warna Batak, Makassar, Jawa dalam bahasa indonesia mereka. Menurut saya, selama ide yg ingin disampaikan dimengerti oleh lawan komunikasi, itu sudah cukup. Terserahlah mereka menggunakan logat yang mana.
Di kampung saya (ya, saya suka kata kampung, so warm), saya nyaris tidak pernah berbicara dalam bahasa indonesia. Bahasa ibu saya adalah bahasa minang. Teman2 saya orang Minang. Lingkungan saya Minang. Bahasa Indonesia lisan adalah bahasa televisi. Hanya satu temen saya yang berkomunikasi dengan bahasa indonesia, itu karena dia dari Jakarta (tapi berdarah Minang juga). Tetapi walau dia berbahasa indonesia, saya tetap berbahasa minang. dan kami saling memahami bahasa masing-masing. Hal ini ternyata menimbulkan sedikit vibrasi ketika saya harus berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.
Saya kemudian teringat masa awal-awal saya keluar kandang saya di Padang sana. Setelah hidup selama sekian belas tahun, saya berkesempatan melihat dunia yang lebih luas daripada kampung halaman saya. Dengan segenap mimpi yang saya bawa, saya akhirnya menginjakkan kaki di tanah Jawa.
Saya ingat pada malam pertama saya di Jakarta, saya ngobrol dengan anak ibu kos saya. Dengan Pedenya saya mengajak dia ngobrol ngalor ngidul. dan Saya menggunakan kata GUE untuk badan saya dan kata LO sebagai pengganti waang :-) rasanya kaku sekali. lidah saya terasa kaku. dan kadang-kadang saya harus berpikir terlebih dahulu untuk mencari padanan kata bahasa Minang di dalam bahasa Indonesia. hehehe.
Saya ingat celutukan anak ibu kos saya waktu itu. Dia bilang, "Da, bahasa lo aneh banget da. kaku" ujarnya sambil cengengesan. "Kenapa emang?"
"Padang banget lo da"
"lah, emg gw orang Padang kok. hehe"
Beberapa waktu kemudian saya keceplosan melafalkan kata kangen dengan e keras. "kangEn Ben" ujar saya lantang. Alhasil orang-orang sekitar saya tertawa mendengarnya.
beberapa orang disekitar saya juga pernah mengalaminya. seperti misalnya teman saya yang orang jawa. dia bermaksud mengumpat dengan menggunakan kata ANJING. tapi yang terlontar dari mulutnya adalah "WUUUUUAAANJJJHEEENG"..hehe
saya awalnya merasa malu. kyak orang kampung aja. begitu. Saya kemudian berusaha melatih lidah saya dengan dialek betawi. tapi saya tidak pernah tau apakah usaha saya ini sukses atau tidak karena seiring berjalannya waktu saya malah menyadari bahwa logat Padang saya justru sangat berarti bagi saya. Saya kemudian menghentikan usaha tersebut. hehe.
dialeg saya menunjukkan identitas saya kemanapun saya pergi, mengingatkan saya asal usul saya, melekatkan kasih sayang ibu di dalam kepala saya. saya hanya perlu sedikit menyesuaikan dengan tanah yang sedang saya injak.
Itulah kenapa kemudian belakangan ini saya menolak untuk menertawakan dialek orang. paling banter saya hanya tersenyum :-)
dan alhamdulillah, masih ada orang yang bilang pada saya,
"Kamu orang padang ya?"
"kok tau?"
"keliatan dari cara ngomongnya"
hehehehehe
setuju da
BalasHapuskawan-kawan dari batak ndak pernah malu samo logatnyo kan
manga lo awak sebagai urang minang harus malu?
malahan itu identitas awak kan
sayang kalau hilang ma
hehe
batua bana :-)
BalasHapustapi yo jan sakarek ula sakarek baluik
indomi jadinyo
hahaha
BalasHapustapi tu iyo ndak lo indomi do
logat se nan minang kalau babahaso indonesianyo
:)