Senin, 05 Mei 2014

Ayo ngobrol! (#disconnecttoconnect)

Saya baru saja selesai nonton film Her. Filmnya cukup bagus menurut saya.  Saya suka tone warna filmnya. Terlihat warm di sepanjang film. Walaupun jalan ceritanya agak lambat, tapi masih enjoyable. Ide ceritanya adalah manusia yang jatuh cinta dengan sebuah Sistem Operasi Komputer. Dikisahkan bahwa pada suatu masa, suatu sistem operasi komputer sudah berkembang sedemikian canggihnya sampai bisa berinteraksi verbal dengan manusia. Si komputer ini bahkan bisa memilih nama panggilannya sendiri.

Samantha namanya. Bisa di suruh ini itu. Menyusun jadwal. Mengecek email. Bahkan bisa diajak ngobrol dan curhat.  Lama kelamaan, Theodore, si pemilik Samantha, jatuh cinta sama Samantha ini. Lalu mereka pacaran. Iya. Pacaran sama komputer.

Sekilas sepertinya gila ya.
Tapi kok kayaknya saya bisa paham. Si Samantha ini, si sistem operasi komputer ini adalah Artificial Intelligent super canggih sampai punya perasaan dan mengembangkan empati. Bisa mengerti. Bisa memberi reaksi atas aksi. Bisa memahami. Apalagi, si theodore ini adalah pria kesepian yang baru saja kehilangan pasangan. Nah.

Kasus yang mirip pernah kejadian sama seorang teman saya. Berawal dari sebuah sms nyasar yang keterusan, teman saya sampai menjalin hubungan dengan orang yang tidak jelas siapa ini. Siang malam selalu sms-an. Telponan. Kapan saja dan di mana saja. Tidak peduli apapun komentar dan cemeeh dari para sahabatnya, dia tetap keras kepala menjalani hubungan itu like for real. Temen saya ini mentally locked to his phone. Kalau menurut saya sih sudah sampai level mengganggu. Lha, interaksi sosialnya dengan manusia asli mulai berkurang. Pokoknya hapeeeeeeee terus. Paling panik kalau low bat dan tidak ketemu colokan buat ngecas. Dia mulai ketergantungan sama gadgetnya.

Hayoo siapa yang ngerasa ketergantungan juga sama gadget. Saya sendiri agak agak ketergantungan juga sih. Hal pertama yang saya lihat dan pegang waktu bangun tidur ya hape saya. Matiin Alarm. Hehehe.  Sepanjang hari setiap sekian waktu pasti cek hape. Ada whatsapp atau engga. Ada notif di media sosial atau engga. Ada berita terbaru apa di portal berita. Sebelum tidurpun, pasti megang hape.

 Walaupun tidak punya kecerdasan seperti Samantha, tapi ternyata banyak juga orang yang "jatuh cinta" sama gadgetnya. Mereka tunduk sama gadgetnya. Selalu menunduk. (yaiya klo liat hape sambil mendongak ya pegel). Saya sering lihat sekumpulan manusia duduk bersama di meja, masing-masing sibuk dengan hapenya. Sibuk dengan media sosial di dunia maya. Si A check-in di restoran X. Lalu B, C, D, E, F ramai ramai komen. Padahal mereka duduk bersebelahan.

Manusia adalah makhluk sosial. dan media sosial kan salah satu bentuk bersosialisasi juga. Iya.

Tapi rasanya agak-agak bagaimana gitu. Kok interaksinya pindah ke dunia maya ya. Saya percaya, interaksi sosial terbaik adalah yang langsung bertemu. Dengan saling menatap wajah, kita bisa saling membaca ekspresi. Kita bisa melihat sudut bibir teman kita terangkat, matanya melengkung lalu mendengar dia tertawa. Bisa menepuk pundaknya untuk memberi semangat. Duduk sebelahan, ada wangi parfum atau bau ketek yang semriwing. Kita aktifkan panca indra kita dalam berkomunikasi. Romantis. Agak sedih sih, kumpul-kumpul, tapi masing-masing kita sibuk dengan gadget masing masing. Bener lah yang bilang kalau hape itu mendekatkan yang jauh sekaligus menjauhkan yang dekat.

Saya tidak mau seperti itu. Sebisa mungkin saya engga pegang hape kalau sedang ngumpul-ngumpul bersama teman-teman. Engga selalu, engga ekstrim juga, tapi saya usahakan. Biar lebih banyak ngobrol. Biar lebih akrab.

Saya ketemu ide bagus dari 9gag.com untuk mengatasi hal itu. Jadi kalau ngumpul makan-makan gitu, silakan semua orang mengumpulkan hapenya di tengah meja. Yang pertama kali mengambil hapenya, bayar bill makanan. Hehehehe.

Maksud saya, ayo lah jangan hape terus. Mending ngobrol. Hueheheh.





#catatan #sendiri #pengingat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar