Kemaren, (27 Juni 2012) saya bersama
teman teman berkesempatan menonton langsung pertandingan kualifikasi piala AFC
U-22 antara Indonesia melawan Australia di Riau Main Stadium atau Stadion Utama
Riau. Stadion baru berkapasitas 43.000 tempat duduk ini menjadi tempat
berlangsungnya kualifikasi piala AFC U-22. Stadion ini katanya berstandar
Eropa. Luas bangunannya 7,4 Ha dengan luas lahan 66 Ha. Atapnya dari
Yunani. Rumputnya dari Brazil. Papan Skor Digital dari USA dan Sistem tata
suaranya berasal dari Jerman. Wah banget ya untuk ukuran Indonesia. Wajar.
Pembangunannya sendiri sampai saat ini (sekitar 97 %) memakan biaya hampir 900
Milyar Rupiah. Bahkan katanya bisa melonjak sampai 1,1 T. WOOOOOOWWW!! Katanya
sih ya. Denger-denger sih agak “bermasalah” juga. Tapi kita tidak sedang
membahas itu kok. Hehe.
![]() |
| -awesome atmosphere- |
Kami datang agak
terlambat. Ketika kami sampai di kompleks stadion,
jarum jam sudah menunjukkan pukul 19.20 WIB. Suasananya sangat ramai hingga mencari parkiran pun susah. Melihat kemacetan masuk area parkir yang masih sangat panjang, kami memutuskan parkir agak jauh dari stadion. Tak apa apa lah jalan lumayan jauh. Demi bisa ikut bernyanyi lagu Indonesia Raya sebelum kick-off.
jarum jam sudah menunjukkan pukul 19.20 WIB. Suasananya sangat ramai hingga mencari parkiran pun susah. Melihat kemacetan masuk area parkir yang masih sangat panjang, kami memutuskan parkir agak jauh dari stadion. Tak apa apa lah jalan lumayan jauh. Demi bisa ikut bernyanyi lagu Indonesia Raya sebelum kick-off.
Baru saja kami
mulai berlari, dari arah stadion terdengar lagu Indonesia Raya sudah
berkumandang. Kami semakin kencang berlari. Tapi tidak lama.. Baru sebentar
berlari, napas sudah ngos-ngosan. Terutama dua orang senior saya. Maklum, sudah
berperut.
Kami sampai di
dalam stadion kira-kira lima menit setelah kick off. Pertandingan berjalan
lumayan seru. Pemain Indonesia bisa mengimbangi permainan Australia. Namun
demikian kendali permainan lebih banyak
dipegang lawan. Indonesia sesekali bisa menekan lewat serangan balik melalui
Andik Vermansyah yang memiliki kecepatan diatas rata-rata. Sayang postur tubuh
yang lebih kecil membuat Indonesia sering kalah dalam body-charging. Malah Australia berhasil membobol gawang Indonesia
melalui skema bola mati tendangan penjuru. Gol pun tercipta di menit akhir
tambahan waktu babak pertama. Satu kosong untuk Australia.
Memasuki waktu
istirahat, para pemain cadangan terlihat memasuki lapangan untuk melakukan
pemanasan. Suatu ketika, ada seorang pemain Australia berlari mengejar bola
yang bergulir mendekati sektor tempat
kami berada. Serentak para penonton mencemooh si pemain. “HHUUUUUUUUU” Tapi
bule satu itu cuma cengar cengir aja bahkan melambai-lambai ke arah kami. Dasar
bule GR, kami bukan sedang memuji.
Ada ada saja
ulah pemain cadangan Australia. Entah bagaimana kejadiannya, seorang pemain
Australia terlihat memegangi tiang ikatan jaring gawang yang copot. Dia
berusaha mengembalikan tiang tersebut ke posisi semula. Usahanya sia-sia. Dan
lagi lagi sambil cengar cengir, doi pasrah meletakkan tiang tersebut di tanah.
Hasilnya panitia kalang kabut mengakali agar tiang tersebut bisa kembali
berfungsi.
| - Panitia memperbaiki tiang gawang - |
Kemudian
pertandingan dilanjutkan. Jalannya pertandingan tak jauh berbeda dengan babak
pertama. Australia terlihat nyaman memainkan ball posession. Tidak banyak peluang tercipta di babak ini. Skor tidak berubah sampai peluit akhir
berbunyi. Indonesia kalah 0 – 1.
| Ini poto waktu Half Time. Saya lupa poto skor Full Time. tapi skornya sama kok :P |
Dan inilah yang
mau saya ceritakan.
Bersamaan dengan
peluit akhir pertandingan, tiba-tiba ratusan botol plastik beterbangan dari
arah tribun. Nyaris dari semua sektor. Suasana berubah kacau. Penonton yang
berada di sektor bawah panik berlarian keluar stadion. Termasuk teman-teman
saya. Memang cuma botol plastik. Tapi isinya penuh. Kalau kena kepala ya sakit
juga pasti. Lagipula siapa yang tau isinya air apa. Jangan-jangan air kencing.
Hiiiiiii.
| - lapangan kotor penuh botol - |
Saya sendiri
tidak buru-buru ikut keluar. Buat apa, pasti nanti berdesak-desakan juga di pintu
keluar. Saya lalu poto-poto keadaan sambil mengawasi tribun. Jangan sampai
kepala saya kena sambit botol. Pinggir lapangan yang tadinya bersih sekarang
kotor dipenuhi sampah botol plastik. Sepanjang pengamatan saya, polisi tidak
bertindak apa-apa. Saya ingat ada satu bunyi letusan. Mungkin tembakan
peringatan. Untunglah keributan ini tidak berlangsung lama.
Saya sedih melihat
kelakuan para penonton yang demikian.
Mereka bilang
mereka adalah supporter Indonesia. Saya bilang mereka cuma penonton. Supporter
itu kerjaannya mendukung tim kesayangannya, bukannya fokus mencaci maki tim
lawan. Supporter pastilah tidak mau timnya dihukum FIFA karena kelakuan norak
mereka. Misalnya, menyalakan flare atau menembakkan kembang api di dalam
stadion. Ini adalah pengetahuan umum seorang pecinta bola.
Coba lihat pertandingan Irlandia melawan Spanyol di EURO 2012. Saat
itu Irlandia berada dalam posisi kalah 4 – 0 dari Spanyol. Tapi lihat supporternya.
Mereka bernyanyi, berteriak mendukung tim mereka seolah-olah mereka sedang
unggul 4 – 0. Stadion bergema dengan chants mereka. Suporter Spanyol sampai
terdiam melihat aksi mereka. Luar biasa. Sementara di sini...hehe... mulai menit ‘70-an
sebagian penonton terlihat mulai bergerak meninggalkan stadion termasuk
teman-teman saya (kalau mereka sekitar menit ’85). Mungkin alasannya buat
menghindari berdesak-desakan dan macet di pintu keluar stadion. Manusiawi. Tapi
di lain kesempatan, saat Garuda menang, semua setia menonton hingga menit
terakhir. Glory Hunter. Hmmm...
Saya tidak habis
pikir melihat kotornya caci maki “fans” dalam upaya merendahkan tim rival. Saya
pernah liat umpatan sangat kasar di koran lokal Pekanbaru di kolom komentar suatu previu derbi Sumatra Tengah. Atau komen saling merendahkan dari pecinta klub eropa di forum forum olahraga. Aduh malu atuh lah. Kita ini, meminjam istilah di kolom pangeran siahaan @pangeran, fake plastic fans. Cuma nonton di tv. Engga beli tiket. Beli jersey juga yang KW. Hehehe. Maaf lho buat yang beli jersey ori. Saya bicara garis besar aja. Beda dengan fans asli kelahiran kota tim tersebut yang lahir, besar di kandang tim tersebut. Coba nonton trilogi Green Street Hooligan, kira-kira begitulah gambaran militannya fans "asli". Ribuan kilometer dari Kandang, kita bukan siapa-siapa. Kalau menurut saya sih, sayang sekali kalau sampai caci maki saudara sebangsa setanah air.
Yok mari kita
belajar menjadi supporter. Supporter yang fokus mendukung tim kesayangannya.
Supporter yang bergembira saat timnya menang tetapi tidak balik mencaci sewaktu
timnya kalah. Barcelona pernah dikalahkan Hercules. Real Madrid pun pernah
kalah oleh tim promosi Levante.
Kalah dan menang
itu pasti terjadi. Jadi ya biasa saja. Bumbu rivalitas sedikit boleh lah. Tapi
sampai membunuh suporter lawan? Itu mah kriminal.
Mulai saja dari
hal kecil. Misal, masuklah ke stadion dengan cara resmi. Belilah tiket. Duit
tiket itu juga nanti untuk klub yang kita dukung kok. Katanya supporter tapi
kok dobrak pintu stadion, nyogok aparat, atau manjat tembok? Malu ah. Daripada
mati-matian mengumpat wasit dan tim lawan, gimana kalau kita tetap bernyanyi
chants tim kita sambil ber-Mexican Wave?
Sama sama bikin kerongkongan seret, tapi nilainya beda kan. Hehehehe.
Garuda sedang belajar terbang. Mungkin bukan sekarang. Mungkin bukan di masa hidup saya. Tapi saya tidak pernah berhenti percaya bahwa suatu saat Garuda akan berkuasa.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar