adalah angka yang tertera di odometer mobil ketika rem saya injak kembali di halaman belakang kantor. Wiiiiihhh, alhamdulillah akhirnya sampai kembali ke Pekanbaru dengan selamat. Perjalanan ini menjadi rekor terlama saya berada di belakang setir J
Perjalanan saya dimulai hari jumat yang lalu. Saya, dengan beberapa orang rekan bergerak dari Pekanbaru sekitar pukul setengah 6 sore. Tujuan utama kami adalah menghadiri acara alek atau kondangan pernikahan salah satu rekan kami. Kondangannya sendiri diadakan di Batusangkar, namun karena perjalanan ini dimaksudkan juga untuk acara jalan-jalan2, maka kami putuskan untuk menginap di Bukittinggi saja yang lebih oke suasananya untuk jalan2.
Perjalanan berangkat memakan waktu sekitar 7 jam. Agak lama karena kami kadang berhenti untuk makan atau sekedar ngopi. Ada sebuah kedai kopi yang suasananya cozy banget sekitar 20 menit sebelum Kelok 9. Namanya kalo ngga salah “Bandrek House”. Suasananya dingiiiiiiiinnnnnn. Lumayan buat ngopi biar melek lagi. Hehehe...
Kami sampai di hotel di Bukittinggi sekitar jam setengah 1 malam. Wooow, Bukittinggi malam hari dingin juga ya. Oke. Saatnya beristirahat.
***
Keesokan harinya kami berangkat menuju Batusangkar untuk menghadiri pesta pernikahan teman kami. Perjalanan Bukittinggi-Batusangkar memakan waktu sekitar 1 jam. Sesampai di lokasi pesta ternyata acara belum dimulai. Marapulai (penganten pria) pun belum memakai baju adat. Kami pun dipersilakan menikmati jamuan makanan dari tuan rumah. Rendang asli daerah pegunungan dan gulai rebung plus emping yang lebarnya hampir setelapak tangan. Lamak Bana !
Baru 3 sendok saya menikmati hidangan, terdengar suara ribut dari depan lokasi pesta. Saya pun tergerak untuk melihat sumber kegaduhan. Ternyata sedang ada prosesi “maarak”. Maarak adalah semacam pemberitahuan kepada khalayak ramai bahwa si Fulan telah menikah. Prosesinya sendiri cukup sederhana. Marapulai diarak keliling kampung diiringi ramai suara tetabuhan alat musik tradisional. Sesekali terdengar suara teriakan dari pemandu tetabuhan. Ramai sekali. Semua bergembira minimal tersenyum melihat atraksi dari belasan orang penabuh gendang. Saya sendiri walaupun berdarah Minang, sudah jarang melihat suguhan seperti itu. Rasanya amazed sekali. Hehehe. Norak ya. Acara pun dilanjutkan dengan beberapa sesi poto poto. Berikut Saya tampilkan beberapa poto waktu itu.
| Ini Marapulai yang sedang di arak keliling kampung |
| Ini...Keren...Banget! tung plak dung dung dung! |
| Ada yang pecah satu, latiannya dibanyakin lg ya dek :D |
| Ini emak-emak setempat...yang kanan mukanya malu gitu ya. Hehehe |
| Speechless...Fernando Torres, nasibmu... |
| Cantik ya? hehehe |
Selanjutnya rombongan menuju Danau Singkarak. Perjalanannya cukup menyenangkan, dari atas bukit kita bisa menikmati luasnya Danau Singkarak. Sayang saya tidak bisa full menikmati pemandangan karena harus konsentrasi nyetir, jalannya nanjak dan nikung tajam. hiks hiks.
Singkarak sekarang katanya sudah lebih rapi dan bersih dari Singkarak dulu. Entahlah. Memang Saya waktu kecil pernah ke Singkarak. Tapi sudah tidak ingat lagi. Hahahahahaha. Kalau sekarang sih, menurut Saya, Singkarak bagus-bagus aja. Sayang cuacanya sedang berkabut, jadi keindahan Danau Singkarak tidak bisa kami nikmati maksimal. Kami pun poto-poto dengan latar belakang Danau.
Saya sempat dipalak anak-anak setempat setelah menggunakan WC umum. Jadi ternyata WC umum yang sekilas tidak ada penjaganya itu, tiba-tiba ada penjaganya setelah digunakan. Penjaganya ya anak-anak tadi.
"2000 Bang" kata mereka.
wah, saya pun bingung. Sedang tidak ada recehan euy.
"Ada kembalian limapuluhan gak?" tanya saya.
"Ga ada Bang"
"Saya ga ada 2000an. Gimana dong?"
"Ga mau tau Bang. Pokoknya Abang pipis, abang bayar 2000"
hadeeeh, anak2 sekarang ya. Money oriented. Saya rogoh kantong celana. Ada 2 keping duit 200 rupiah dan sekeping duit 100 rupiah.
"Untuk sementara ini dulu ya" ujar saya.
Mereka menerimanya. memperhatikan. Menghitungnya. Lalu berkata, "huh, duit apaan nih. Nih ambil aja". Kemudian mereka membuang duit tersebut. Ckckckckck.
Kami kemudian turun ke Padang Panjang untuk wisata kuliner Sate Mak Syukur. Wah hujan. Hujan sederas-derasnya. Saya pun tidak berani ngebut. Kabut. Akut. Bikin pandangan awut-awut. Halah. Tapi hujan ini justru menambah enaknya Sate berkuah kuning ini. Udara dingin, sate kuah kuning yang masih berasap dan segelas teh manis hangat. Hmmmmmmm.....
Kenyang makan sate, kami bertolak kembali ke Bukitting. kembali ke Hotel untuk beristirahat. Bersiap untuk perjalanan esok hari.
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar