Selasa, 28 Februari 2012

Mengarang Indah


Minggu kemarin, karena pacar tiada sementara waktu sedemikian senggangnya (yah, curhat), saya pergi ke suatu pusat perbelanjaan di Pekanbaru. Sendirian. Sesampainya di sana saya bingung mau ngapain. Pusat perbelanjaannya tidak terlalu besar. Tidak sampai setengah jam saya sudah menyelesaikan satu putaran thawaf. Akhirnya tanpa pertimbangan apapun saya masuk ke salah satu restoran cepat saji. Tak lama, segelas kola, seporsi makanan bernama Jepang pun siap disantap. Saya memilih kursi yang berada di pojok depan restoran tersebut. Disanalah, dari balik kaca, saya memulai kebiasaan aneh saya. Terinspirasi oleh suatu film yang saya sudah lupa judulnya.

Sambil meneguk pelan kola dingin, saya melihat ke balik kaca. Seorang ibu muda lewat, Penampilannya modis. Tidak cantik memang, tapi jelas terawat. Memakai kaos ketat berlogo superman, hotpants, ibu tersebut menggandeng seorang anak yang mukanya agak mirip Afika Oreo. Saya pun mulai mengarang.

Ibu itu adalah seorang wanita muda yang kaya. Paling tidak suaminya kaya. Mempunyai selera humor yang baik. Ibu itu pasti jauh dari keluarganya. Ibu muda kaya yang kesepian. Hal yang paling dia cintai setelah anaknya hanyalah shopping. Saya sok tau? Emang. Namanya juga ngasal. 

Di meja sebelah, ada sepasang anak SMA. Pacaran, pasti. Cowoknya tampak tidak bersemangat. Mungkin karena waktu main futsalnya dikorbankan untuk menemani si cewek. Si cewek, yah, dari yang saya ingat hanya tertunduk di hadapan si cowok. Nangis? Huuu, dia mantengin Blackberrynya. Pasti ada yang tidak beres dengan cara mereka berkomunikasi. Si cewe pasti berdiri sebagai pihak yang mendominasi sementara si cowo manut-manut saja kepada si cewe. Jumlah putus nyambung hubungan mereka lebih banyak dari jumlah rata rata sms (atau BBM?) perhari diantara mereka.

Benar atau tidaknya dugaan ngasal saya itu tentu tidak bisa di buktikan. Kan, semuanya itu cuma dugaan ngaco saya. Mungkin saya sudah keracunan sinetron-sinetron Indonesia. Tapi saya suka melakukannya. Saya suka menerka-nerka latar belakang seseorang, terutama kenalan baru.

Ada seorang teman. Wajahnya lebih tua dari usianya. Seorang perokok amatir. Rambutnya dicat pirang pakai pewarna murahan. Menyukai musik-musik kaum urban. Dalam benak saya waktu baru berkenalan, dia anak sulung yang kurang perhatian dari orang tuanya. Kenyataannya? Dia seorang bungsu manja yang hidup di tengah-tengah keluarga yang sangat menyayanginya.

Lain lagi teman saya yang namanya, kita sepakati saja, Maemunah , 20 tahun, seorang gadis periang. Manis, menurut standar kampus saya dulu (yang memang kekurangan populasi kaum Hawa  ). Maemunah adalah orang yang sangat supel. Maemunah seolah tak memiliki kesulitan bersosialiasi apalagi terhadap lawan jenis. Pokona mah, dari luar, dia terlihat sangat enjoy menikmati hidupnya yang tanpa masalah. Sempat terpikir dalam benak saya, entah dari mana, orang ini punya beban tersembunyi dalam hidupnya. Bertahun kemudian, Maemunah curhat bahwa dirinya berasal dari keluarga broken home. Ibu bapaknya bercerai. Bapaknya kawin lagi. Ibu tiri Maemunah bahkan tidak tahu bahwa Maemunah ada, hidup. Bapaknya? Diam. Di suatu kesempatan, dia harus memanggil bapaknya dengan sebutan “Om”. Sedih ya.

Walaupun lebih banyak salahnya daripada benarnya, tetap saja saya suka “membuatkan” latar belakang versi saya sendiri untuk orang-orang yang saya baru kenal. Hehehehe.

Dari sana, pertanyaan berikutnya adalah, kira-kira apa ya yang ada di kepala orang yang baru berkenalan dengan saya? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar