Jumat, 08 Agustus 2014

P for Padang

Kota Padang di awal abad 19

7 Agustus 2014, Kota Padang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 345. Saya jadi ingin menulis sedikit tentang kota ini.

Saya tidak tahan untuk tidak membandingkan kota ini dengan Pekanbaru, tempat saya bermukim saat ini. Jujur saja, saat ini tidak banyak yang bisa dibanggakan dari kota Padang. Saya dengar dari para sesepuh, dulu kota ini lebih maju dari Pekanbaru. Orang dari Pekanbaru datang ke kota ini untuk belajar bagaimana membangun dan mengembangkan sebuah kota. Sekarang keadaannya berbalik. Kota Pekanbaru, dalam usianya yang “baru” 250 tahun sudah jauh lebih berkembang dari Padang. Dulu Padang adalah sebuah tujuan. Sekarang gantian. Pekanbaru yang jadi tujuan. 

Memang ngeri ngeri sedap hidup di kota Padang. Kota ini termasuk rawan bencana. Di sebelah barat kota padang terdapat zona subduksi lempeng yang menyimpan potensi gempa sewaktu-waktu. Tinggal di padang berarti harus siap olahraga jantung karena gempa bisa datang sewaktu-waktu. Dan, ya, karena berada di daerah pantai, jadi ada ancaman tsunami. Lalu di sebelah timur ada jajaran bukit barisan dengan beberapa gunung berapi aktif. Hehe

Saya jadi ingat gempa 2009. Kebetulan saya sedang di padang karena libur kuliah. Saat itu saya sedang tidur. Bumm!! Gempa!!!  Alhamdulillah saya terbangun dan masih bisa menyelamatkan diri. Keadaannya benar-benar mencekam waktu itu. Chaos. Gedung gedung runtuh. Kebakaran dimana-mana. Jalanan macet total karena semua orang lari ke arah perbukitan. Mungkin dari titik inilah kota ini mulai stagnan.

Setelah terjadinya gempa, Pemko melakukan semacam sensus bangunan yang terkena dampak. Salah satu hasilnya, Bangunan Pasar Raya Padang ternyata dinyatakan tak layak guna. Pemko bergerak cepat mendirikan kios kios darurat di badan jalan akses Pasar Raya dengan tujuan agar kegiatan ekonomi bisa terus berjalan sementara Pasar Raya diperbaiki. Niatnya bagus sih. Tapi kebablasan. Sampai sekarang Pasar Raya tak pernah selesai diperbaiki. Badan Jalan akses Pasar Raya sekarang diduduki oleh PKL. Benar-benar semrawut. Sudah hampir 5 tahun lho. Pasar ini tak pernah kembali normal.
 
Ini seharusnya jalan raya lho~~~
Saya juga memperhatikan, saat ini lampu-lampu penerangan jalan umum kota padang banyak banget yang rusak. Bahkan jalan protokolnya. Woah sekarang jalan-jalan di kota Padang jadi banyak yang gelap. Saya kurang tau masalahnya, mungkin memang sudah rusak. Tapi kalau tidak salah saya pernah baca di koran kalau Pemko menunggak bayaran ke PLN.  Aduh aduh.

Kota Padang juga tercatat sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang tidak punya terminal.

Beberapa kenalan dekat saya yang merantau ke padang pernah mengeluh tentang kota ini. Misalnya, kenapa kota ini tidak ada jaringan bioskop? Heheheh. Iya benar.  Tidak ada 21 atau Blitz. Yang ada adalah bioskop lokal yang filmnya telat berbulan-bulan dibanding ibukota. Tidak ada Mall. Ehm. Ada sih Basko Grand Mall. Tapi rasanya lebih mirip sebuah plaza daripada Mall X) Entah apa penyebabnya, tapi selama bertahun-tahun, rasanya tidak ada investor besar yang masuk ke kota ini.

Keluhan lainnya biasanya tentang perilaku berkendara dan pelayanan publik. Ini juga tidak bisa saya bantah soalnya saya sendiri juga merasakannya. Senyum Sapa dan Salam jadi barang langka kalau kita sedang berurusan dengan bidang pelayanan publik. Disiplin berlalu lintas masih buruk. Walaupun tidak jelas-jelasan, kok saya ngerasa intinya yang banyak dikeluhkan rekan-rekan saya soal karakter masyarakatnya ya.

Wah ini, saya susah sekali menjabarkannya. 

...

Saya sedih orang-orang yang saya anggap dekat mengeluh soal kota ini. Soal orang-orang di kota ini. Lebih sedih lagi soalnya yang dikeluhkan itu emang bener.


345 tahun umur kota Padang, mari berbenah. Jangan dululah merengek minta disebut metropolitan. Fokus dulu aja jadi kota kecil tapi menyenangkan bagi penduduknya. Ya?

Dirgahayu Kota Padang. Kujaga dan Kubela.




Kota Padang adalah kota kelahiran saya. Di kota ini saya menghabiskan 19 tahun awal hidup saya. Cerita keluarga, masa kecil, remaja, dan romantisme pertama saya berkelindan di banyak sudut kota ini. Saya belajar setiap emosi di dalam kota ini. Saat saya akhirnya meninggalkan kota ini untuk kuliah, saya berjanji, kota ini adalah tempat saya kembali.

Nanti.

Senin, 04 Agustus 2014

Priiiiiitttt!!!!

ada dua hal yang tidak saya sukai dari Pekanbaru.
yang pertama, suhunya. PANAS DAN GERAH. menurut om wikipedia di laman kota pekanbaru , suhu udara Pekanbaru maksimum berkisar antara 34.1 °C hingga 35.6 °C. Paling ekstrim pernah mencapai 37 derajat celcius waktu kemarau kemaren. waktu kabut asap sedang parah parahnya. gini aja buat bayanginnya, jam 8 malem itu tembok rumah masih kerasa panas kalau dipegang.

yang kedua, saya tidak suka kelakuan pengendara disini. 
memang sih saya tidak punya banyak pembanding mengingat kota yang pernah saya kunjungi boleh dibilang masih terbatas jumlahnya. tapi, tanpa pembanding apapun, saya bisa katakan disiplin berlalu lintas di Pekanbaru masih sangat jelek.

Di pekanbaru ada sebuah perempatan namanya perempatan pasar pagi arengka. Saya setiap hari pergi dan pulang kantor melewati perempatan ini. Perempatan ini cukup besar lho. dari satu sisi ke sisi lain mungkin ada sekitar 30 meter. Lebih malah. di satu sisi ada pasar tradisional. Di sisi lainnya ada salah satu pusat perekonomian dan daerah pemukiman padat. Lampu merah? ada.

Tapi...
Di perempatan ini, lampu merah hampir tidak digubris. jadi yang mau lewat ya lewat saja. Bablas. Yang penting berani. Sebagian patuh sama sinyal lampu merah. tapi berentinya 10 meter setelah lampu merah. hehehe. Jadi kalau lampu merah, itu perempatan penuh sampai ke tengah-tengah. Motor atau mobil sama saja. Siapa berani, ya silakan aja jalan terus tidak peduli warna lampu. Sebagian lainnya yang tidak sempat nerabas, ya terpaksa patuh lampu merah. Tapi langsung ribut klakson-klakson begitu hitung mundur lampu merah tersisa 10 detik.

Apa susahnya sih berhenti sebelum lampu merah????

Polisi? Wah kurang tau. Jaraaaaang sekali terlihat.

Oh ya, tentu. Untuk setiap kondisi yang seperti ini, kita pasti bilang : "Tidak semua". Iya. Begitulah. tidak semua.

Keadaannya lebih baik di perempatan Mall SKA. Mobil dan motor berbaris rapi. Berhenti di belakang garis. Hanya bergerak maju ketika lampu hijau. Ehm. Ada pos polisi sih.

ada polisinya juga. pagi sampai sore bahkan malam.

Coba kita lihat di jalan protokol Pekanbaru. Oh gampang sekali ketemu pengendara motor tidak pakai helm.

Menyeberangi jalan Jenderal Sudirman di saat jam sibuk adalah pekerjaan yang sangat menyebalkan. Boro-boro memperlambat laju kendaraannya, pengendara disini bakal sibuk klakson atau nge-dim minta didahulukan. Pun begitu kalau mau U-turn.

Motor seinnya ke kiri tapi mendadak belok kanan.
Motor yang keluar gang tanpa liat kiri kanan.
Mobil yang mau belok kanan tapi ngambil lajur paling kiri.

Su~~~dah biasa.

Kenapa ya.





(Denger-denger Padang juga begitu, Ckckck. Pantas teman2 saya banyak yang tidak betah di Padang. Nanti kapan-kapan saya nulis soal ini deh)

Sabtu, 31 Mei 2014

Badan Ceking dan Mata Panda

Seingat saya, saya tidak pernah gemuk. Mungkin memang sudah bawaannya begitu ya. Sebanyak apapun saya makan, badan saya tetap saja kurus. Waktu saya SMA, dengan tinggi 16x cm, berat saya pernah cuma 45 kilogram. Kurus sekali ya. 


Waktu kuliah keadaan sedikit membaik. Kalau saya tidak salah, berat badan saya berkisar 50-55 kilogram. Mendingan daripada jaman SMA. Tapi pas jaman kuliah, saya sering begadang. Akibatnya, saya jadi punya kantong mata. Ada lingkaran hitam di bawah mata saya. Badan ceking dan punya kantong mata bukanlah sebuah kombinasi yang menarik. Ditambah pula dengan perawakan saya yang agak membungkuk. Persis lah tipikal gambaran seorang junkies. Hahaha.


Tampilan seperti ini beberapa kali membuat saya dikira seorang pecandu narkoba. Saya pernah ditawarin cimeng sama orang gak dikenal di bus waktu SMA. Waktu kuliah, ada satu atau dua orang teman saya yang serius menganggap saya seorang pecandu. Terakhir, Saya bahkan sampai berurusan dengan Kepolisian. Parahnya lagi, bukan Kepolisian Indonesia tetapi Kepolisian Negara Singapur. How cool is that? hahahhaha super koplak.

Jadi gini, suatu waktu, saya berkesempatan jalan-jalan ke Singapur. Perjalanan pertama saya ke luar negeri lho. Saya berangkat ke Singapur lewat Batam dengan menggunakan transportasi ferry. Senangnya bukan main akhirnya paspor saya ada cap stempelnya. Saya melangkah keluar imigrasi pelabuhan dengan riang gembira.

Baru beberapa langkah melewati metal detector, saya dipanggil beberapa orang petugas berpakaian preman. Tiga orang, lebih tepatnya. Satu orang kurus dengan muka yang mengingatkan saya dengan Jarjit, dua orang lagi berbadan gede menyandang hand gun di pinggang mereka. Si Jarjit meminta paspor saya. Dua orang rekannya memeriksa bawaan saya.

Si Jarjit bertanya saya ke Singapur ada keperluan apa. Pekerjaan saya apa. Berapa lama saya di Singapur. Lucu sebenarnya. Si Jarjit ini nanya saya pakai bahasa Melayu. Saya sok-sok an jawab pakai Inggris. Si Jarjit balas lagi pakai Singlish. Saya jawab pakai Bahasa Indonesia sehari-hari. Untungnya rekan si Jarjit ini mengerti apa yang saya ucapkan. Kemudian saya digiring ke kantor mereka di pelabuhan tersebut. Coba tebak buat apa? iyak, BUAT TES NARKOBA. Hadeeeeh.

Saya disuruh pipis di dua botol plastik kecil untuk kemudian diperiksa. Saya disuruh tunggu di suatu ruangan kecil dengan sebuah mesin besar di pojokan. Sepertinya itu mesin untuk tes urin. Di dindingnya ada logo Central Narcotics Bereau Of Singapore (Mungkin semacam Badan Narkotika Nasional kalau di Indonesia). Ada dua orang polisi bersama saya di ruangan tersebut. Dalam hati saya, saya tertawa. Ya ampun begini amat ya, sekalinya keluar negeri, langsung berurusan dengan Kepolisian Narkoba. Tapi saya tahan-tahan agar tidak nyengir apalagi tertawa. Ngeri dianggap tidak koperatif atau melecehkan SOP mereka.

Setelah kira-kira 20 menit, saya dinyatakan "Clear". Carrier saya dikembalikan dan saya diantar keluar kantor mereka. Setelah keluar dari sana barulah saya cengar cengir sendiri. Saya lihat pacar saya pucat nungguin saya (err.. ga juga sih. doi sibuk razia hape saya --" )

Sampai sekarang saya tidak tahu kenapa saya dicurigai sampai di tes seperti itu. Apakah ada semacam random sampling atau karena mereka curiga melihat penampilan saya yang kurus mata panda dan kaos agak kekecilan. Cuma Jarjit dan dua orang temannya yang tau. Hahahahaha.


Cemburu

Apa sih cemburu itu...coba kita liat beberapa definisi cemburu dari beberapa sumber :

Jealousy is an emotion, and the word typically refers to the negative thoughts and feelings of insecurity, fear, and anxiety over an anticipated loss of something of great personal value, particularly in reference to a human connection. Jealousy often consists of a combination of emotions such as anger, resentment, inadequacy, helplessness and disgust. In its original meaning, jealousy is distinct from envy, though the two terms have popularly become synonymous in the English language, with jealousy now also taking on the definition originally used for envy alone. Jealousy is a typical experience in human relationship.
(English Wikipedia)

Cemburu : 1 merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung dsb; sirik: ia -- melihat madunya berjalan berduaan dng suaminya; 2 kurang percaya; curiga (krn iri hati)
(artikata.com dan KBBI)

dari dua definisi diatas, definisi cemburu menurut English Wiki rasanya lebih kumplit.

Banyak orang bilang, cemburu adalah tanda sayang. Saya rasanya kurang sependapat. Cemburu adalah emosi negatif. Rasa sayang adalah emosi positif. Masa indikator emosi positif adalah adanya emosi negatif? 

Lalu apa hubungan cemburu dengan rasa sayang?
Ada yang bisa jawab?



Rabu, 07 Mei 2014

Saya tidak tahu tulisan singkat ini mau diberi judul apa

Setiap kita pasti ingin berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, apapun definisi "lebih baik" yang kita anut. Ini sedikit catatan kecil saya tentang hal-hal sederhana yang bisa bikin kita menjadi pribadi yang lebih baik:

  1. Tersenyum :-)
  2. Kurangi mengeluh
  3. Ucapkan terima kasih
  4. Ucapkan tolong
  5. Matikan lampu begitu keluar dari toilet
  6. Matikan keran wastafel saat menggosok gigi. 
  7. Sebisa mungkin hindari penggunaan kantong plastik. Kalau belanja di minimarket cuma beberapa item yang bisa dimasukin tas,  bilang aja sama mbaknya ga usah pake kantong plastik :-)
  8. Berhenti di belakang garis saat lampu merah.
  9. ............
  10. ............
Daftar ini bisa terus bertambah panjang...
Yang penting, meminjam istilahnya Aa Gym, kita mulai dari hal-hal kecil, kita mulai dari diri sendiri, dan kita mulai dari sekarang.
 
 Maaf bukan menggurui lho ya. Cuma berbagi ide. hehehe.

Senin, 05 Mei 2014

Ayo ngobrol! (#disconnecttoconnect)

Saya baru saja selesai nonton film Her. Filmnya cukup bagus menurut saya.  Saya suka tone warna filmnya. Terlihat warm di sepanjang film. Walaupun jalan ceritanya agak lambat, tapi masih enjoyable. Ide ceritanya adalah manusia yang jatuh cinta dengan sebuah Sistem Operasi Komputer. Dikisahkan bahwa pada suatu masa, suatu sistem operasi komputer sudah berkembang sedemikian canggihnya sampai bisa berinteraksi verbal dengan manusia. Si komputer ini bahkan bisa memilih nama panggilannya sendiri.

Samantha namanya. Bisa di suruh ini itu. Menyusun jadwal. Mengecek email. Bahkan bisa diajak ngobrol dan curhat.  Lama kelamaan, Theodore, si pemilik Samantha, jatuh cinta sama Samantha ini. Lalu mereka pacaran. Iya. Pacaran sama komputer.

Sekilas sepertinya gila ya.

Rabu, 26 Maret 2014

['Nother Late Post] Ku Yakin Hari Ini Pasti Menang

Kemaren, (27 Juni 2012) saya bersama teman teman berkesempatan menonton langsung pertandingan kualifikasi piala AFC U-22 antara Indonesia melawan Australia di Riau Main Stadium atau Stadion Utama Riau. Stadion baru berkapasitas 43.000 tempat duduk ini menjadi tempat berlangsungnya kualifikasi piala AFC U-22. Stadion ini katanya berstandar Eropa. Luas bangunannya 7,4 Ha dengan luas lahan 66 Ha. Atapnya dari Yunani. Rumputnya dari Brazil. Papan Skor Digital dari USA dan Sistem tata suaranya berasal dari Jerman. Wah banget ya untuk ukuran Indonesia. Wajar. Pembangunannya sendiri sampai saat ini (sekitar 97 %) memakan biaya hampir 900 Milyar Rupiah. Bahkan katanya bisa melonjak sampai 1,1 T. WOOOOOOWWW!! Katanya sih ya. Denger-denger sih agak “bermasalah” juga. Tapi kita tidak sedang membahas itu kok. Hehe.


-awesome atmosphere-
Kami datang agak terlambat. Ketika kami sampai di kompleks stadion,

Minggu, 23 Maret 2014

Lutfiah Hamida Adiza

Lutfiah Hamida Adiza namanya. Kulitnya putih bersih. Pipinya merona. Ada serat-serat kemerahan tampak disana. Rambutnya ikal. Bergelung gelung lucu di pinggiran keningnya. Matanya kecil saja. Tapi pupilnya besar memakan proporsi bola matanya. Jika saya letakkan kelingking saya di sela jemarinya, dia akan merapatkan jemarinya tersebut untuk menggenggam kelingking saya erat-erat.

Fia panggilannya. Suaranya bernada tinggi. Dia suka sekali bercerita. Kalau sedang asyik bercerita, tangannya bergerak-gerak turun naik. Kadang kadang tunjuk sana sini. Seru sekali. Ketika dia sedang dalam mood yang baik, dia cepat akrab dengan siapa saja. Supel. Siapa saja ditegurnya. Tukang sayur yang kebetulan lewat. Tetangga yang sedang berkebun.

Jumat, 30 Agustus 2013

Habede wuatebe yaaaaaa

Saya mempunyai kebiasaan mengoleksi ucapan ulang tahun dari teman dan para sahabat. Dulu, kira kira 7-8 tahun yang lalu, saya setiap tahunnya menerima sekitar 15-25 sms ucapan selamat ulangtahun. Semuanya bernada doa yang baik bagi saya. Semua sms itu saya simpan dalam suatu folder khusus di dalam handphone saya. Bahkan saya backup ke komputer. Kebiasaan itu terus berlanjut selama sekian tahun. Sayang sms-sms tersebut sekarang sudah tidak bisa saya lihat karena sudah sekian kali ganti handphone dan komputer saya waktu itu juga sudah rusak. Sedih rasanya.

Minggu, 24 Maret 2013

Tilang




Dua minggu yang lalu saya kena tilang. Memang murni kesalahan saya sih. Saya lupa ruas jalan yang saya lalui kemaren itu adalah jalan satu arah. Jadi begitu masuk jalan tersebut, saya langsung di semprit sama polisi yang sedang mangkal di jalan tersebut. Yah apes. Siang-siang panas begitu kena tilang.

Di pos polisi, saya ditanyai nama, pekerjaan dan tahu tidak kesalahannya apa. Saya lalu diberi selembar surat tilang berwarna merah muda. SIM saya ditahan. Tidak lupa pak pol berpesan untuk hadir di persidangan tanggal sekian jam sekian.  Atau kalau mau mudah, urus tilangnya di Polresta Pekanbaru sebelum tanggal sidang. 

Pada tanggal persidangan, saya sudah sampai di Pengadilan Negeri Pekanbaru satu jam sebelum jam persidangan. Terlalu cepat sih. Tapi ya tidak apa-apa. Bisa sarapan dulu. Aduh saya deg-degan. Ini persidangan pertama seumur hidup saya.

Memasuki gedung Pengadilan Negeri Pekanbaru, saya disambut seorang bapak-bapak di meja resepsionis. Saya bertanya dimanakah ruang sidang tilang. Bapak itu menjelaskan dengan ramah sambil menawarkan bantuan untuk menguruskannya.  Penawaran yang menarik namun saya tolak karena sudah berniat mau mengurus sendiri.

Di ruang sidang, satu per satu para terdakwa dipanggil ke depan lalu disuruh duduk di kursi pesakitan. Akhirnya saya dapat giliran. Saya maju ke depan. And  You know what?

Cuma ditanya kesalahannya apa. 

Lalu Pak hakim tanda tangan Surat Tilang. 

Lalu bayar.

Selesai. SIM kembali di tangan.

Waah, ternyata mengurus tilang di pengadilan itu gampang banget. Tidak seribet yang dibayangkan. Prosesnya gak sampai 15 menit. Mungkin sekitar 10 menit saja. Dan lebih murah. Saya melanggar Pasal 287 ayat 1 dengan ancaman kurungan maksimal dua bulan atau denda maksimal Rp500.000. Kalau lewat calo bisa kena Rp75.000-Rp100.000. Di pengadilan saya divonis denda Rp49.000 saja. Hehehehe. Nego sama Polisi? Cuih. Saya tidak rela duit saya dimakan polisi.

Jadi kalau teman-teman ditilang, saya sarankan lebih baik urus saja sendiri tilangnya di pengadilan. Mudah dan murah tanpa terlibat KKN. Intinya kemauan saja kok. Sistemnya sudah ada. Saya sudah beberapa kali sukses mengurus ini itu tanpa calo atau suap-suapan. Diantaranya SIM, pajak motor, dan paspor. Cukup sediakan kesabaran ekstra karena tidak semua petugas pelayanan mampu bersikap layaknya pelayan. Sebagian masih nirsenyum atau pilih kasih. Pernah kejadian waktu saya mengurus pembuatan paspor, ibu-ibu petugas di loket pelayanan paspor langsung berubah sikap begitu tau saya dan teman saya kerja di BPKP. Dari yang tadinya super judes jadi super manis. Hadeeh.

Kalau ada calo-calo yang menawarkan jasa “percepatan”, tolak saja dengan alasan mau nyoba urus sendiri. Biasanya mereka sudah mafum dan ngeloyor pergi mencari mangsa lain. Hehehe.

Yuk, anti korupsi kita mulai dari diri sendiri :-)

Rabu, 04 Juli 2012

Malem Minggu Aye Pergi Ke Bioskop ~~~


Nonton film adalah salah satu kegiatan yang saya suka. Soalnya menonton film adalah suatu hal gampang yang menyenangkan. Di laptop saya saat ini ada sekitar 70 judul film. Sedikit ya? Hehehe. Sebenernya lumayan banyak. Sebagian besar koleksi terpaksa saya hapus karena kapasitas harddisk laptop  yang sangat terbatas :-( Jadi untuk menampung koleksi-koleksi film baru, film lama terpaksa di hapus. Maklum gak punya harddisk eksternal. Di burn? Ah lupa terus. Koleksi saya bersumber dari hasil ngopi dari teman yang mengopinya dari teman yang mengopinya dari temannya juga dan seterusnya. Sebagian lainnya hasil download sendiri. Iya, semuanya bajakan. Kualitas minimal DVDrip. Btw, kualitas film bajakan sekarang semakin parah ya. Udah sampai level 1080p alias HD yang per judul filmnya bisa makan harddisk sampai 20 GB. Contoh film Avatar. Edan. Laptop saya mpe ngos- ngosan buat muternya. Ngelag parah. Hehehe.

Selasa, 28 Februari 2012

Mengarang Indah


Minggu kemarin, karena pacar tiada sementara waktu sedemikian senggangnya (yah, curhat), saya pergi ke suatu pusat perbelanjaan di Pekanbaru. Sendirian. Sesampainya di sana saya bingung mau ngapain. Pusat perbelanjaannya tidak terlalu besar. Tidak sampai setengah jam saya sudah menyelesaikan satu putaran thawaf. Akhirnya tanpa pertimbangan apapun saya masuk ke salah satu restoran cepat saji. Tak lama, segelas kola, seporsi makanan bernama Jepang pun siap disantap. Saya memilih kursi yang berada di pojok depan restoran tersebut. Disanalah, dari balik kaca, saya memulai kebiasaan aneh saya. Terinspirasi oleh suatu film yang saya sudah lupa judulnya.

Senin, 20 Februari 2012

Anakku Hebat Lhoooo....


Dalam pergaulan sehari-hari di lingkungan kantor , ada suatu hal umum yang saya perhatikan nyaris selalu ada dalam percakapan ngalor ngidul antar orang tua.  Coba tebak apa?

Kalau kalangan bapak-bapak, biasanya obrolannya tentang politik, guyonan semi mesum, atau pertandingan bola semalam. Kalau ibu-ibu, wah kurang tau juga ya, tapi kayaknya ibu-ibu senang ngomongin orang lain. Alias ngegosip. 

Nah, sekarang bapak-bapak dengan ibu-ibu kalo lagi ngobrol gitu topik kesukaannya apa ayo? Jreng Jreng, dari yang saya perhatikan, mereka senang sekali membicarakan anaknya. Bapak ini anaknya kuliah di Universitas terkenal di Jawa. Ibu ini anaknya  4. Empat empatnya sudah kerja semua di perusahaan luar negeri. Bapak ini anaknya begini. Ibu itu anaknya begitu.

Rabu, 08 Februari 2012

635,7 Kilometer (Part 2)


Keesokan paginya jam 8 pagi kami siap menuju Puncak Lawang. Jalannya sangat berliku dan menanjak. Lebarnya pun pas-pasan. Kalo papasan dengan mobil lain, kadang-kadang salah satu mobil harus mengalah berhenti dulu. Tanjakan terakhir cukup bikin deg-degan. Menikung U, kemiringannya mungkin mencapai 30 derajat. Tidak cukup gigi dua. Teman-teman asyik masyuk bercanda, Saya deg-degan liat jurang di sebelah kanan. Maklum supir amatir. Hahahaha. Alhamdulillah sampai juga di Puncak Lawang.

Puncak Lawang adalah objek wisata khas pegunungan. Terletak di ketinggian 1.200 mdpl, wajar bila udaranya sangat sejuk. Dari Puncak Lawang, kita bisa menikmati pemandangan Danau Maninjau yang baguuuuussss bgt. Katanya si, kalau cerah bahkan di kejauhan bisa terlihat luasnya Samudera Indonesia.

Selasa, 07 Februari 2012

Untitled

Keep On Smokin' Boy....I don't give a shit...

635,7 Kilometer (Part 1)

adalah angka yang tertera di odometer mobil ketika rem saya injak kembali di halaman belakang kantor. Wiiiiihhh, alhamdulillah akhirnya sampai kembali ke Pekanbaru dengan selamat. Perjalanan ini menjadi rekor terlama saya berada di belakang setir J
Perjalanan saya dimulai hari jumat yang lalu. Saya, dengan beberapa orang rekan bergerak dari Pekanbaru sekitar pukul setengah 6 sore. Tujuan utama kami adalah menghadiri acara alek atau kondangan pernikahan salah satu rekan kami. Kondangannya sendiri diadakan di Batusangkar, namun karena perjalanan ini dimaksudkan juga untuk acara jalan-jalan2, maka kami putuskan untuk menginap di Bukittinggi saja yang lebih oke suasananya untuk jalan2.
Perjalanan berangkat  memakan waktu sekitar 7 jam. Agak lama karena kami kadang berhenti untuk makan atau sekedar ngopi. Ada sebuah kedai kopi yang suasananya cozy banget sekitar 20 menit sebelum Kelok 9. Namanya kalo ngga salah “Bandrek House”. Suasananya dingiiiiiiiinnnnnn. Lumayan buat ngopi biar melek lagi. Hehehe...

Jumat, 20 Mei 2011

FVCKKKKKK YEAAAAAAHHHHHHHH

beberapa bulan yang lalu saya tidak sengaja nemu sebuah link tumblr yang menurut saya bagus sekali. Halaman tersebut berisi gambar2, komik strip yang bercerita tentang keseharian mahasiswa...ini alamatnya, silakan di klik dijamin no jebakan batman :-)

Kamis, 21 April 2011

Norman Kamaru

Walau sepertinya sudah agak telat, tiba2 saya ingin menulis tentang fenomena Briptu Norman Kamaru. Jadi begini ceritanya. Beberapa hari sebelum beritanya meledak di media, saya sudah terlebih dahulu menonton videonya pak Briptu yang satu ini dari Kaskus.us. Menurut saya memang lucu. Gayanya tidak dibuat-buat. Saya yakin orang yang pertama kali melihat aksinya di video tersebut pasti tertawa, atau setidaknya tersenyum.

Selang sekian hari, media tiba-tiba gencar memberitakan video yang kalau tidak salah berjudul “Polisi Gorontalo Menggila” tersebut. Tapi kemudian beritanya menggila, persis seperti judul video tersebut. Pak Briptu mendadak menjadi pesohor. Beritanya dimana-mana. Pak Briptu bahkan dipanggil ke Jakarta. Beliau diundang mengisi acara musik di berbagai stasiun televisi. Bahkan didampingi oleh seorang petinggi Polri yg saya lupa namanya.

Selasa, 29 Maret 2011

LOGAT

Ketika saya kuliah di STAN, saya punya banyak teman yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia. Dari barat ke timur. dan dalam berkomunikasi, tentu mereka menggunakan bahasa indonesia.

Bahkan dalam satu bahasa indonesia, saya menemukan banyak warna dalam percakapan sehari-hari dengan teman-teman saya itu. Indah sekali merasakan warna Batak, Makassar, Jawa dalam bahasa indonesia mereka. Menurut saya, selama ide yg ingin disampaikan dimengerti oleh lawan komunikasi, itu sudah cukup. Terserahlah mereka menggunakan logat yang mana.